Fadila Mauliza

Get Gifs at CodemySpace.com

Rabu, 20 November 2013

Cerita Pendek (Cerpen)


Bukan Angin Tapi Hujan
 
Karya :
Fadila Mauliza


Sedingin dikala hujan, sederas air yang jatuh, seperti itulah caraku mencintai karya Tuhan. Hujan selalu hadir membawa nikmat, kesejukan, dan kedamaian di dalamnya. Itulah yang membuat aku menyukai hujan. Apapun yang mereka katakan, seolah telingaku telah tertutup suara deras air hujan. Ya! aku tidak perduli!

*          *          *          *

“Hujan ini!”, sahut Karin dalam perjalanan pulang ke rumah.
Aku sangat menikmati setiap tetes hujan yang membasahi tubuhku, hingga aku tidak menyadari bahwa ada sesosok pria yang tidak sengaja menabrakku.
“Maaf. Maaf.”, seraya pergi meninggalkanku.

 
*          *          *          *

Setiap kali aku bermain di tengah-tengah derasnya air hujan, pria yang pagi itu tidak sengaja bertabrakan denganku selalu hadir di setiap kali hujan turun.
Kenan, nama pria itu. Ternyata ia juga sangat menyukai kesejukan air hujan sama sepertiku. Kami selalu menikmati nikmat Tuhan itu bersama-sama.
Tepat di halte tempat kami berteduh, aku merasa ada yang berbeda darinya. Gelisah, seperti ada sesuatu hal yang sedang disembunyikannya.
Akhirnya ia memulai pembicaraan “ Karin, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Biasanya aku selalu berdiri sendirian di tengah-tengah jutaan air hujan yang membasahiku. Tapi sekarang aku tidak sendiri, kau selalu menemaniku disetiap hujan turun. Mau kah kau terus menemaniku walaupun hujan tidak turun? Karena bersamamu saja aku sudah merasakan kesejukan sama ketika hujan turun”.
Aku tersontak dan langsung mengiyakan pertanyaannya, “Aku mungkin tidak sesejuk hujan, tapi aku yakin kita bisa mendapatkan lebih dari kesejukan ketika bersama”

*          *          *          *

20 hari lagi tepat 1 tahun Kenan dan aku bersama. Ketika di halte tempat biasa kami berteduh, Kenan mengatakan bahwa hari ini merupakan hari terakhir kami menghabiskan waktu bersama sebelum hari yang ditunggu-tunggu itu dating.
Tiba-tiba Kenan bekata, “Karin, jika suatu hari nanti aku tidak lagi dapat menemanimu menikmati kesejukan air hujan. Aku harap kau mau menjadi pelangi yang hadir setelah hujan’.
Entah apa maksud Kenan mengatakan itu padaku, aku hanya bisa terdiam.

*          *          *          *

Aku sangat bersemangat pagi ini, hari spesial Kenan dan aku setelah lama bersama. Ditambah lagi hujan favorit kami yang hjuga sedang turun.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat bendera putih di depan rumah Kenan, dan orang-orang yang sudah memadati rumahnya. Aku segera masuk ke dalam dan mendapati bahwa sesosok pria yang terbujur kaku diselimuti kain putih itu adalah Kenan. Saat itu juga aku tidak bisa membendung kesedihanku.
Tak lama seorang wanita menghampiriku dan memberikanku sepucuk surat, dia adalah Ibu Kenan. Surat itu berisikan :
“Kepada Karin,
Mungkin saat kau membaca surat in, aku telah tiada lagi di dunia. Maafkan aku selama ini telah menyembunyikan sesuatu darimu. Sudah lama aku divonis dokter terkena kanker darah. Dokter mengatakan bahwa hidupku sudah tidak lama lagi.
Aku sangat beruntung dapat dipertemukan denganmu. Seorang wanita yang memiliki kesukaan yang sama denganku. Tahukah kau mengapa aku sangat menyukai hujan? Hanya saat hujanlah aku dapat meneteskan air mataku tanpa diketahui siapapun, aku tidak mungkin menangis di depan orang banyak. Dan aku merasa sakit ku sedikit berkurang saat hujan, walaupun harus ada darah yang selalu keluar dari hidungku saat hujan.
Ingat pesanku, tetaplah menjadi pelangi yang muncul ketika habis hujan! Karena kau merupakan wanita paling berharga yang pernah ku miliki selain Ibu ku sendiri.
Kini aku telah sampai pada titik lelahku. Terimakasih untuk waktu 1 tahun yang telah kita lewati, maafkan semua kesalahan yang pernah ku lakukan padamu.
Happy anniversary 1st year, aku mencintaimu.

Kenan”

            Hujan kali ini turut serta dalam pemakaman Kenan, dan pada hari itu, untuk pertama kalinya aku tidak menyukai turunnya hujan.
            Aku tidak menyangka, karena biasanya yang mempertemukan dan memisahkan sesuatu itu adalah arah angin, tapi kali ini, Kenan dan aku dipertemukan dan dipisahkan oleh hujan. Ya, bukan angin tapi hujan.

SELESAI