Bukan Angin Tapi Hujan
Karya :
Fadila Mauliza
Sedingin dikala hujan,
sederas air yang jatuh, seperti itulah caraku mencintai karya Tuhan. Hujan
selalu hadir membawa nikmat, kesejukan, dan kedamaian di dalamnya. Itulah yang
membuat aku menyukai hujan. Apapun yang mereka katakan, seolah telingaku telah
tertutup suara deras air hujan. Ya! aku tidak perduli!
* *
* *
“Hujan ini!”, sahut
Karin dalam perjalanan pulang ke rumah.
Aku sangat menikmati
setiap tetes hujan yang membasahi tubuhku, hingga aku tidak menyadari bahwa ada
sesosok pria yang tidak sengaja menabrakku.
“Maaf.
Maaf.”, seraya pergi meninggalkanku.
* * *
*
Setiap kali aku bermain
di tengah-tengah derasnya air hujan, pria yang pagi itu tidak sengaja
bertabrakan denganku selalu hadir di setiap kali hujan turun.
Kenan, nama pria itu.
Ternyata ia juga sangat menyukai kesejukan air hujan sama sepertiku. Kami
selalu menikmati nikmat Tuhan itu bersama-sama.
Tepat di halte tempat
kami berteduh, aku merasa ada yang berbeda darinya. Gelisah, seperti ada sesuatu
hal yang sedang disembunyikannya.
Akhirnya ia memulai
pembicaraan “ Karin, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Biasanya aku
selalu berdiri sendirian di tengah-tengah jutaan air hujan yang membasahiku.
Tapi sekarang aku tidak sendiri, kau selalu menemaniku disetiap hujan turun.
Mau kah kau terus menemaniku walaupun hujan tidak turun? Karena bersamamu saja
aku sudah merasakan kesejukan sama ketika hujan turun”.
Aku tersontak dan
langsung mengiyakan pertanyaannya, “Aku mungkin tidak sesejuk hujan, tapi aku
yakin kita bisa mendapatkan lebih dari kesejukan ketika bersama”
* *
* *
20 hari lagi tepat 1
tahun Kenan dan aku bersama. Ketika di halte tempat biasa kami berteduh, Kenan
mengatakan bahwa hari ini merupakan hari terakhir kami menghabiskan waktu
bersama sebelum hari yang ditunggu-tunggu itu dating.
Tiba-tiba Kenan bekata,
“Karin, jika suatu hari nanti aku tidak lagi dapat menemanimu menikmati
kesejukan air hujan. Aku harap kau mau menjadi pelangi yang hadir setelah
hujan’.
Entah
apa maksud Kenan mengatakan itu padaku, aku hanya bisa terdiam.
* *
* *
Aku sangat bersemangat
pagi ini, hari spesial Kenan dan aku setelah lama bersama. Ditambah lagi hujan
favorit kami yang hjuga sedang turun.
Betapa terkejutnya aku
ketika melihat bendera putih di depan rumah Kenan, dan orang-orang yang sudah
memadati rumahnya. Aku segera masuk ke dalam dan mendapati bahwa sesosok pria
yang terbujur kaku diselimuti kain putih itu adalah Kenan. Saat itu juga aku
tidak bisa membendung kesedihanku.
Tak lama seorang wanita
menghampiriku dan memberikanku sepucuk surat, dia adalah Ibu Kenan. Surat itu
berisikan :
“Kepada Karin,
Mungkin saat kau membaca surat in, aku telah tiada
lagi di dunia. Maafkan aku selama ini telah menyembunyikan sesuatu darimu.
Sudah lama aku divonis dokter terkena kanker darah. Dokter mengatakan bahwa
hidupku sudah tidak lama lagi.
Aku sangat beruntung dapat dipertemukan denganmu.
Seorang wanita yang memiliki kesukaan yang sama denganku. Tahukah kau mengapa
aku sangat menyukai hujan? Hanya saat hujanlah aku dapat meneteskan air mataku
tanpa diketahui siapapun, aku tidak mungkin menangis di depan orang banyak. Dan
aku merasa sakit ku sedikit berkurang saat hujan, walaupun harus ada darah yang
selalu keluar dari hidungku saat hujan.
Ingat pesanku, tetaplah menjadi pelangi yang muncul
ketika habis hujan! Karena kau merupakan wanita paling berharga yang pernah ku
miliki selain Ibu ku sendiri.
Kini aku telah sampai pada titik lelahku.
Terimakasih untuk waktu 1 tahun yang telah kita lewati, maafkan semua kesalahan
yang pernah ku lakukan padamu.
Happy anniversary 1st year, aku
mencintaimu.
Kenan”
Hujan kali ini turut serta dalam pemakaman Kenan, dan
pada hari itu, untuk pertama kalinya aku tidak menyukai turunnya hujan.
Aku tidak menyangka, karena biasanya yang mempertemukan
dan memisahkan sesuatu itu adalah arah angin, tapi kali ini, Kenan dan aku
dipertemukan dan dipisahkan oleh hujan. Ya, bukan angin tapi hujan.
SELESAI
